Kamis, 10 April 2014

D5 "Pemilihan Diaken dan Pengurus"



Pemilihan Diaken dan Pengurus
D-5   1962, 1968
Kis 6:1-7 (last edit 05Jan 2014, by Robert Sutjiadi)

Kemajuan sebuah organisasi sangatlah tergantung pada susunan organisasi yang lengkap dan pengurus yang mengetahui akan tugas dan tanggungjawabnya. Sebuah organisasi tanpa susunan organisasi akan menjadi kacau.  Jika pengurus organisasi tidak mengetahui tugasnya, maka akan terjadi banyak kelalaian tugas dan penyalahgunaan wewenang sehingga terjadi pertengkaran dan perselisihan. Mereka akan menjadi penghalang kemajuan pekerjaan Tuhan. 

Maka tugas dari seorang pengurus adalah ia harus:
1.      Mengetahui akan jabatannya
2.      Mengetahui tugas-tugasnya.
Jika memiliki kedua hal tersebut, maka jelaslah gereja akan menjadi maju.  Sebagai referensi, marilah kita pelajari pemilihan pengurus dari gereja mula-mula.

I.          Mengapa harus memilih majelis?
Ayat 1 mejelaskan sebabnya,  Ayat 2  “Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul “ Pada awalnya ada dua belas rasul, kemudian ada tujuh puluh murid yang lain. Setelah itu bertambah lima ratus murid, dan pada hari Pentakosta hanya dalam satu hari bertambah lagi tiga ribu orang. Selanjutnya setiap hari murid Tuhan Yesus terus bertambah, sehingga kedua belas rasul sulit mengatasi masalah mereka serta menyelesaikannya dengan memuaskan. Jikalau tidak memilih majelis untuk membantu mereka, pasti masalahnya menjadi lebih rumit. Inilah sebabnya para rasul mengumpulkan para murid untuk menjelaskan alasannya perlu pemilihan majelis.

Marilah kita pelajari bagaimana Musa memimpin orang Israel keluar dari Mesir (Kel 18: 12-18)

Masa kini sistem organisasi gereja juga mirip seperti itu
Sayang sekali Gereja masa kini memiliki majelis, tetapi mereka tidak jelas akan tugasnya, sehingga lupa akan kewajiban dan melalaikan pekerjaannya. Mereka dalam gereja hanya mau menjadi bos, ingin menjadi pemimpin dan menguasai gereja, termasuk mengatur dan memerintah hamba Tuhan. Selain itu, ada juga yang tidak bertanggungjawab, hanya mau nama dan tidak melakukan kewajibannya.

II.        Status dan tugas dari diaken dan pengurus
1.        Mereka dipilih
2.        Mereka diutus
Menurut jabatan, pelayan gereja terdiri dari pelayan tetap, umpamanya pendeta dan penginjil serta penatua dan pelayan dengan batas waktu.

Walaupun demikian, ada pendeta tidak tahu diri, umpamanya seorang pendeta yang kawin dengan seorang perempuan kafir dan melepaskan pelayanannya.  Juga ada pendeta yang meninggalkan jabatan kependetaannya karena mau berjualan buku dan kemudian berkembang menjadi bisnisman lagi. Bukankah sayang sekali dia sudah mencintai dunia ini?

Di Samarinda ada seorang penatua gereja melanggar wewenang dan memandang enteng pendetanya, akhirnya ia dipecat.  Ada juga penatua yang tidak pernah berdoa, ketika ia mendengar pendeta mengatakan bahwa seorang anak Tuhan yang tidak berdoa, berarti kerohaniannya sudah mati. Dia menjadi marah dan mengundurkan diri, bahkan tidak mau ke gereja lagi, kasihan!

Semuanya ini dapat terjadi karena mereka tidak mengenal akan statusnya, dan tidak jelas akan tugasnya. Maka kami sarankan semua diaken dan pengurus gereja harus terlebih dahulu membaca tata laksana gerejanya.

III.     Syarat untuk dapat dipilih menjadi diaken
1.        Memilik nama baik
2.        Dipenuhi Rohkudus
3.        Penuh dengan hikmat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar