Pemilihan Diaken dan
Pengurus
D-5 1962, 1968
Kis 6:1-7 (last edit 05Jan 2014, by Robert Sutjiadi)
Kemajuan sebuah organisasi sangatlah tergantung pada susunan organisasi yang lengkap
dan pengurus yang mengetahui akan tugas dan tanggungjawabnya. Sebuah organisasi
tanpa susunan organisasi akan menjadi kacau.
Jika pengurus organisasi tidak mengetahui tugasnya, maka akan terjadi
banyak kelalaian tugas dan penyalahgunaan wewenang sehingga terjadi
pertengkaran dan perselisihan. Mereka akan menjadi
penghalang kemajuan pekerjaan Tuhan.
Maka tugas
dari seorang pengurus adalah ia harus:
1.
Mengetahui akan jabatannya
2.
Mengetahui tugas-tugasnya.
Jika memiliki kedua hal tersebut, maka jelaslah gereja akan menjadi
maju. Sebagai referensi, marilah kita pelajari
pemilihan pengurus dari gereja mula-mula.
I.
Mengapa harus memilih majelis?
Ayat 1 mejelaskan sebabnya, Ayat 2
“Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid
berkumpul “ Pada awalnya ada dua belas rasul, kemudian ada tujuh puluh murid
yang lain. Setelah itu bertambah lima ratus murid, dan pada hari Pentakosta hanya dalam satu hari bertambah lagi tiga ribu orang. Selanjutnya
setiap hari murid Tuhan Yesus terus bertambah, sehingga kedua belas rasul sulit mengatasi
masalah mereka serta menyelesaikannya dengan memuaskan. Jikalau tidak
memilih majelis untuk membantu mereka, pasti masalahnya menjadi lebih rumit. Inilah sebabnya para
rasul mengumpulkan para murid untuk menjelaskan alasannya perlu pemilihan majelis.
Marilah kita pelajari bagaimana Musa
memimpin orang Israel keluar dari Mesir (Kel
18: 12-18)
Masa kini sistem organisasi
gereja juga mirip seperti itu
Sayang sekali Gereja masa
kini memiliki majelis, tetapi mereka tidak jelas akan tugasnya, sehingga lupa akan kewajiban dan melalaikan pekerjaannya. Mereka dalam gereja hanya mau menjadi bos, ingin
menjadi pemimpin dan menguasai gereja, termasuk mengatur dan
memerintah hamba Tuhan. Selain itu, ada juga yang tidak bertanggungjawab, hanya mau nama dan tidak melakukan kewajibannya.
II.
Status dan tugas dari diaken dan pengurus
1.
Mereka dipilih
2.
Mereka diutus
Menurut jabatan, pelayan gereja
terdiri dari pelayan tetap, umpamanya pendeta dan
penginjil serta penatua dan pelayan dengan batas waktu.
Walaupun demikian, ada pendeta tidak tahu diri, umpamanya seorang pendeta yang
kawin dengan seorang perempuan kafir dan melepaskan pelayanannya. Juga ada pendeta yang meninggalkan jabatan kependetaannya karena mau berjualan buku dan kemudian berkembang menjadi bisnisman
lagi. Bukankah sayang sekali dia sudah
mencintai dunia ini?
Di Samarinda ada seorang penatua gereja melanggar wewenang dan memandang
enteng pendetanya, akhirnya ia dipecat.
Ada juga penatua yang tidak pernah berdoa, ketika ia mendengar pendeta mengatakan bahwa
seorang anak Tuhan yang tidak berdoa, berarti kerohaniannya sudah
mati. Dia menjadi marah dan
mengundurkan diri, bahkan tidak mau ke gereja
lagi, kasihan!
Semuanya ini dapat terjadi karena
mereka tidak mengenal akan statusnya, dan tidak jelas akan tugasnya. Maka kami sarankan semua diaken dan pengurus gereja harus terlebih
dahulu membaca tata laksana gerejanya.
III.
Syarat untuk dapat dipilih menjadi diaken
1.
Memilik nama baik
2.
Dipenuhi Rohkudus
3.
Penuh dengan hikmat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar