Kesengsaraan Kristus
D-8 27/3-1964
Mat 27:45-50, Yoh 19:25-27 (last edit 08Jan 2014, by Robert Sutjiadi)
Dalam dunia ini perkara ketidak-adilan
yang utama adalah kesengsaraan Kristus,
karena Kristus adalah anak tunggal Allah, satu-satunya orang benar, tetapi justru Dia disalibkan di atas kayu salib.
Dalam dunia ini Hukuman yang paling
kecam adalah hukuman disalibkan. Karena orang yang disalib di atas kayu salib hanya disangga oleh tiga paku untuk menahan tubuhnya yang berat, dan darahnya menetes sampai habis, lantas mati. Di negari Yahudi suhu udara sangat panas, orang yang
disalib setelah berhari-hari mengalami penderitaan berat barulah meninggal.
Kristus mengalami ketidak-adilan tapi tidak minta naik banding. Dia rela disalibkan karena dosa kita, betapa besar kasihNya. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan
menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu
sekali-kali takkan menimpa Engkau. Kiranya Engkau jangan pergi ke Yerusalem. " Maka Yesus berpaling dan berkata kepada
Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau
bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan
manusia." (Mat 16: 21-23) Sebenarnya
Kristus sudah mengetahui sebelumnya bahwa Dia akan ditangkap di Yerusalem,
tetapi Dia tidak menghindar, melainkan dengan sukarela mati bagi kita.
Marilah kita memperingati kesengsaraan kristus
I.
Allah tidak sampai
hati melihat keadaanNya.
Pada usia 12 tahun, Yesus bersama orang tuaNya ke Yerusalem untuk merayakan
hari Paskah. Setelah itu, Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret dan tetap hidup dalam asuhan mereka.
Ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Dan Yesus makin
bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan
manusia. (Luk 2:51-52) Tidak seorangpun yang dapat menanggung murka Allah, tetapi karena kasih Allah
ternyata dinyatakan dalam hal ini.
Ketika Abraham mempersembahkan Esak, ia adalah
anaknya yang tunggal. Abraham mau taat pada perintah Allah dan dengan tangannya sendiri bersedia membunuh anaknya untuk dipersembahkan kepada Allah demi menyatakan kasihnya kepada Allah.
Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara
nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku,
mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mat 27:46)
Saudara sekalian, apakah engkau ada dengar seruan dari Tuhan Yesus? Tahukah saudara bahwa karena kasih Allah kepada kita Ia rela menyerahkan
anakNya yang tunggal untuk menggantikan hukuman dosa-dosa kita? Dan Tuhan Yesus rela ke Yerusalem menerima
hukuman yang sangat kejam di atas kayu salib untuk menebus dosa kita. Apakah
engkau mengasihi Dia?
II.
Hati Ibu Maria
bagaikan pedang menusuk hatinya
Mengenangkan peristiwa Maria mengandung. Maria menghadapi bahaya besar tanpa takut mati dan dengan semangat tanpa mengelak ia menerima beban titipan Allah. Apakah kita tidak terpikir bahwa Maria mengasihi anaknya?
Ketika kelahiran Kristus, terjadi hal-hal yang
menggemparkan sehingga segala penderitaan selama berada di dalam kandang binatang
telah Maria lupakan, karena sudah mendapatkan banyak hiburan.
Pada hari ke delapan, Maria menggendong anaknya ke bait
Allah untuk
dipersembahkan. Setelah Simeon yang tua memberkatinya dan berkata kepada Maria: “ suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri”. Hal ini benar suatu nubuat yang
sangat menakutkan. Sungguh benar setelah itu Maria sering mengalami
perasaan ibarat ditusuk hatinya karena Yesus.
Pada saat sesudah Yesus dibaptis, Yesus segera keluar
dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah
seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga
yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku
berkenan." (Mat 3:16-17) Kemudian Yesus dicobai iblis dan setelah Dia menang dari
pencobaan itu, datanglah malaekat melayani-Nya. Inilah bukti Allah mengasih Dia.
Segala sesuatu yang dilakukan Yesus dalam
hidupnya, antara lain mengajar, menyembuhkan orang sakit, mengusir Setan dan melakuka mujizat,
tidak satupun menyatakan bahwa Allah tidak menyertaiNya. Ini membuktikan bahwa Allah sangat mengasihi
Dia.
Ketika Yesus berubah rupaNya di bukit, datanglah awan
menaungi mereka dan dari dalam awan
itu
terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." (Mrk 9:7)
Dari data tersebut di atas, dapat kita melihat bahwa Yesus adalah anak yang dikasihi Allah. Dalam
dunia ini, apakah ada ayah yang tidak sayang anaknya sendiri, lalu memberikan
anaknya kepada
orang lain? Inilah buktinya bahwa Allah sangat mengasihi
manusia. Demikian besar kasih Allah
sehingga dikaruniakan anakNya yang tunggal
kepada manusia. (Yoh 3:16) Hal ini menyatakan bahwa
betapa besar kasih Allah
bagi manusia.
Dalam dunia banyak orang mau memberikan bingkisan
yang sangat berharga kepada orang lain, tetapi jarang ada orang mau memberikan
anaknya kepada orang lain. Walaupun ada, tetapi masih sangat sedikit. Ada orang sudah sangat miskin hingga tak punya makanan, tetapi ia rela bersama anaknya pergi mengemis makanan dari pada menyerahkan anaknya
kepada orang lain. Tetapi Allah karena mengasih seisi dunia, sehingga DIa rela dengan cuma-cuma memberikan -- walaupun hanya punya satu anak -- kepada dunia. Betapa besar kasihNya!
Tetapi manusia
tidak tahu balas budi, malahan menyalibkan anak
Allah yang tunggal dan tidak mau menerima kasih Allah. Apakah Allah sampai hati
melihat anakNya menderita dan mati
siksa? Oleh sebab itu, ketika Yesus berada di atas kayu salib dan sangat menderita, maka Allah telah memalingkan mukaNya dan tidak ingin melihat.
Benar, Kristus berbakti kepada orang tuaNya. Alkitab berkali-kali
menyatakan hal ini, tetapi jangan
campur aduk relasi kemanusiaan dan relasi ketuhanan. Ternyata Kristus kadang kala mengeluarkan
kata-kata yang menusuk hati Ibunya Maria. Hal
ini dapat kita temukan antara lain: Ketika Yesus berumur 12 tahun ( Luk 2:48-51); Ketika Yesus mulai menginjili, Ia menghadiri pesta pernikahan di Kana, di mana tuan rumah kehabisan anggur (Yoh 2:2-5), Ada lagi, ketika Maria ibuNya datang menemui Yesus yang sedang berkotbah. (Mat 2:46-50)
Hal-hal tersebut di atas masih tidak dihiraukan oleh Maria,
melainkan hanya menyimpan dalam hati. Akan tetapi dalam peristiwa terakhir, ketika Maria melihat anaknya mati di atas
kayu salib yang sangat mengerikan, sungguh-sungguh bagaikan pedang menusuk hatinya, lantas ia jatuh pingsan.
Tuhan Yesus bukannya tidak
menyayangi ibuNya. Melainkan karena Dia mau menaati kehendak Allah dan rela mati demi menebus dosa manusia.
Tuhan Yesus berkata, barang siapa tidak mengasihi Aku melebihi mengasihi ayah dan ibunya, tidak layak menjadi muridKu. Ini adalah ajaran Yesus yang jelas bagi kita.
Pada akhirnya, waktu Yesus menerima hukum yang kejam,
Tuhan Yesus tetap berdoa “ Ya, Bapa ampunilah mereka, karenaapa yang mereka
berbuat, mereka tidak tahu” (Luk 23:34) Pada saat Tuhan menerima
ketidak-adilan ini, Ia tetap mengeluarkan kata-kata untuk mengampuni orang lain.
Maka saat kita ditimpa sedikit kesusahan, janganlah tawar hati dan
bersungut-sungut, haruslah kita
dapat mengampuni orang dan bersinar bagi Tuhan, Amin!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar