Kamis, 10 April 2014

D7 "Sampai Berapa Kali Aku Harus Mengampuni?

Sampai berapa kalikah aku harus mengampuni orang?
D-7  1968
Mat 18:21-35 (last edit 08 Januari 2014, by Robert Sutjiadi)

Saya ingin membicarakan tentang kebenaran pengampunan. Masa Perjanjian Lama adalah masa hukum Taurat, “gigi ganti gigi, mata ganti mata”, tetapi masa Perjanjian Baru adalah masa Anugrah yang mengajarkan kebenaran mengampuni, mengasihi sesamamu dan musuhmu. Inilah keunikan dari ajaran agama Kristen. (Mat 22:36-40) Tuhan Yesus menyatakan kepada kita bahwa hukum yang terbesar adalah Kasih.  "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua adalah Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.."  Seorang dapat mengasih orang lain, ia akan dapat mengampuni orang lain. Hal ini menyatakan bahwa ia mampu mengasihi orang lain.

Segenap Matius Fasal 18 membicarakan tentang kebenaran pengampunan.
1-6 Dalam perjalanan ke Kapernaum para rasul saling berdebat“siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?” (Mark 9:33-37) Setelah tiba di Kapernaum Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.” Jika seorang mau merendahkan diri, ia tidak akan bertengkar dengan orang. Ada sekelompok anak-anak meskipun mereka bertengkar dan berkelahi, malah sampai orangtuanya turut campur, tetapi tidak lama kemudian anak-anak itu sudah berdamai kembali, padahal orangtua mereka masih berlanjut bertengkar.  Kita harus belajar dari anak-anak karena mereka tidak menyimpan amarahnya dalam hati. Itulah kebenaran pengampunan.

7-11 Penggal tangan dan kaki berarti putus hubungan dengan dosa
Jika tangan kanan atau kiri, kaki kanan atau kiri, ataupun matamu terluka, itu mungkin masih berguna bagimu. Akan tetapi bila ada hal-hal menyebabkan engkau fatal atau gagal, maka engkau harus sementara putus hubungan dengan hal-hal tersebut, agar supaya engkau tidak dikuasai oleh racun dosa itu.
Tetapi jangan lupa bahwa roh jiwa manusia sangat berharga, maka kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita dan jangan menaruh kebencian dalam hati.
Berhubung orang Samaria tidak menyambut Yohanes, ia mohon Tuhan menurunkan api dari langit adalah permohonan yang salah. Demikitan pula Peterus menghunus pedangnya untuk melawan, juga tindakan yang salah.

12-14 Domba yang tersesat. Seorang jatuh ke dalam dosa, ia bagaikan domba yang tersesat.
Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya tersesat, tidakkah ia akan meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba dan pergi mencari yang tersesat itu sampai menemukannya? Inilah semangat mengampuni yang perlu kita teladani.
“Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” (Mat 5:23-24)

15-20 "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.  Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.”

21-22 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
Barangkali dalam perjalanan ke Kapernaum Peterus dalam mood sangat marah. Mungkin kita juga seperti Peterus dengan marah berkata: “Aku adalah seorang Kristen, aku harus mengampuni orang lain, sekali, dua kali dan seterusnya sampai tujuh kali, aku telah mengampuni orang itu. Sekarang sudah ke delapan kalinya, aku tidak akan dapat mengampuni dia lagi.”
Masalah pertama dan kedua aku telah mengampuni dia, dalam perkara besar atau kecil aku pun telah mengampuni dia, tetapi dalam perkara ini aku tidak akan mengampuni dia lagi.
Ya Tuhan, Dikau menghendaki aku mengampuni orang. Kepada siapapun aku dapat mengampuninya, tetapi bagi orang ini aku tidak akan mengampuni. Maafkan saya Tuhan! Inilah sikap Peterus. Tetapi Tuhan Yesus mau kita mengampuni orang tujuh puluh dikalikan tujuh kali, yang berarti mengampuni orang dengan sungguh hati dan tuntas.

23-35  Kerajaan Sorga bagaikan seorang raja mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.  Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.  Hamba yang mendapatkan penghapusan hutang dari Tuannya, seharus ia bersyukur atas belas kasihan dari tuannya, tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai hutangnya dilunasi. Setelah tuannya mendengarkan dari hal hambanya itu, Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Karena kita telah mencemarkan kemuliaan Allah. Allah telah mengampuni dosa-dosa kita karena kematian Yesus Kristus. Jadi jika kita tidak mendengar akan ajaranNya dan tidak mau mengampuni orang lain, maka di kemudian hari kita tidak akan diampuni pula.

Ingatlah Tuhan Yesus di atas kayu salib, Ia berdoa bagi musuh-musuh-Nya,  "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Luk 23:34) Demikian pula Stefanus saat dirajam dengan batu, ia sambil berlutut  berseru dengan suara nyaring: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Dan dengan perkataan itu meninggallah ia. (Kis 7:60)

Ketika Tuhan Yesus mengajar di atas bukit, Dia telah mengajarkan orang jangan memusuhi, jangan membenci, jangan membalas dendam, melainkan mengasihi musuhmu. Dia mengajar kita dalam doa Bapa kami “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” (Mat 6:12)  Jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Mat 6:14,15)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar