Sampai berapa kalikah aku
harus mengampuni orang?
D-7 1968
Mat 18:21-35 (last edit 08 Januari 2014, by Robert Sutjiadi)
Saya
ingin membicarakan tentang kebenaran pengampunan. Masa
Perjanjian Lama adalah masa hukum Taurat, “gigi ganti gigi, mata ganti mata”,
tetapi masa
Perjanjian Baru adalah masa Anugrah yang mengajarkan
kebenaran mengampuni, mengasihi sesamamu dan musuhmu. Inilah keunikan dari ajaran agama Kristen. (Mat 22:36-40) Tuhan
Yesus menyatakan
kepada kita bahwa hukum yang terbesar adalah Kasih. "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan
segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah
hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua adalah Kasihilah sesamamu manusia
seperti dirimu sendiri.." Seorang dapat mengasih orang
lain, ia akan
dapat mengampuni orang lain. Hal ini
menyatakan bahwa ia mampu mengasihi orang lain.
Segenap Matius Fasal 18 membicarakan tentang kebenaran pengampunan.
1-6 Dalam perjalanan ke
Kapernaum para rasul saling berdebat“siapakah
yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?” (Mark 9:33-37) Setelah tiba di Kapernaum Yesus memanggil seorang anak kecil dan
menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata: "Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil
ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa
merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam
Kerajaan Sorga.” Jika seorang mau merendahkan diri, ia tidak akan bertengkar dengan orang. Ada sekelompok anak-anak meskipun mereka bertengkar dan berkelahi, malah sampai orangtuanya turut campur, tetapi tidak lama kemudian anak-anak itu sudah berdamai kembali, padahal orangtua
mereka masih berlanjut bertengkar. Kita harus belajar dari anak-anak karena mereka tidak menyimpan amarahnya dalam hati. Itulah kebenaran pengampunan.
7-11
Penggal tangan dan kaki berarti putus hubungan dengan dosa
Jika tangan kanan atau kiri, kaki
kanan atau kiri, ataupun matamu terluka,
itu mungkin masih berguna bagimu. Akan tetapi bila ada hal-hal menyebabkan
engkau fatal
atau gagal, maka engkau
harus sementara putus hubungan dengan hal-hal tersebut, agar supaya engkau tidak dikuasai oleh racun
dosa itu.
Tetapi jangan lupa bahwa roh jiwa manusia sangat berharga, maka kita harus
mengampuni orang yang bersalah kepada kita dan jangan menaruh kebencian dalam
hati.
Berhubung orang Samaria tidak menyambut Yohanes, ia mohon Tuhan menurunkan api dari langit adalah permohonan yang salah. Demikitan pula Peterus menghunus pedangnya untuk melawan, juga tindakan yang salah.
12-14
Domba yang tersesat. Seorang jatuh ke dalam dosa, ia bagaikan domba
yang tersesat.
Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan
seekor di antaranya tersesat, tidakkah ia akan meninggalkan sembilan puluh
sembilan ekor domba dan pergi mencari yang tersesat itu sampai menemukannya?
Inilah semangat mengampuni yang perlu kita
teladani.
“Sebab itu,
jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat
akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di
depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali
untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” (Mat 5:23-24)
15-20
"Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia
mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak
mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas
keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia
tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia
tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak
mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa
yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di
dunia ini akan terlepas di sorga. Dan
lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat
meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di
sorga.”
21-22 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada
Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia
berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
Barangkali dalam perjalanan ke Kapernaum Peterus dalam mood sangat marah. Mungkin
kita juga seperti Peterus dengan marah berkata: “Aku adalah seorang Kristen, aku harus
mengampuni orang lain, sekali, dua kali dan seterusnya sampai tujuh kali, aku telah
mengampuni orang itu. Sekarang sudah ke delapan kalinya, aku tidak akan dapat mengampuni dia lagi.”
Masalah pertama dan
kedua
aku telah mengampuni dia, dalam perkara
besar atau kecil aku pun telah mengampuni dia, tetapi dalam perkara
ini aku tidak akan mengampuni dia lagi.
Ya Tuhan,
Dikau menghendaki
aku mengampuni orang. Kepada siapapun aku dapat mengampuninya, tetapi bagi orang
ini aku tidak akan mengampuni. Maafkan saya Tuhan! Inilah sikap Peterus. Tetapi
Tuhan Yesus mau kita mengampuni orang tujuh puluh dikalikan tujuh kali, yang berarti mengampuni orang dengan sungguh hati dan tuntas.
23-35 Kerajaan Sorga bagaikan seorang raja mengadakan perhitungan dengan
hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan
perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu
talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu
memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk
pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba
itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan
akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Hamba yang mendapatkan
penghapusan hutang dari Tuannya, seharus ia bersyukur atas belas kasihan dari tuannya, tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang
berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu,
katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu,
hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai
hutangnya dilunasi. Setelah tuannya mendengarkan
dari hal hambanya itu, Raja itu menyuruh
memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh
hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu
seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan
menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu,
apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap
hatimu."
Karena kita telah mencemarkan
kemuliaan Allah. Allah telah mengampuni dosa-dosa kita karena kematian Yesus Kristus. Jadi
jika kita tidak mendengar akan ajaranNya dan tidak mau mengampuni orang lain, maka di kemudian hari kita tidak akan diampuni pula.
Ingatlah Tuhan Yesus di atas kayu
salib, Ia berdoa bagi musuh-musuh-Nya,
"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka
perbuat." (Luk 23:34) Demikian pula Stefanus saat dirajam dengan batu, ia sambil berlutut berseru dengan suara nyaring: "Tuhan,
janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Dan dengan perkataan itu
meninggallah ia. (Kis 7:60)
Ketika Tuhan Yesus mengajar di atas bukit, Dia telah mengajarkan orang
jangan memusuhi, jangan membenci, jangan
membalas dendam, melainkan
mengasihi musuhmu. Dia mengajar kita dalam doa Bapa
kami “Ampunilah
kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah
kepada kami.” (Mat 6:12) Jikalau kamu mengampuni
kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau
kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni
kesalahanmu." (Mat 6:14,15)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar